DhohoTV - Sosial

Perajin Tenun Stagen Dan Bengkung Tradisional , Bertahan Di Tengah Gerusan Arus Modernisasi Tulungagung

Oleh : redaksi Jumat, 03 Maret 2017

Keterangan : Stagen dan bengkung , tentunya tak asing bagi perempuan jaman dulu sebagai pelengkap berbusana kebayak , ataupun di pakai seusai melahirkan, agar perut kembali langsing, dan kini di era modern , nya

Bagikan

Di era modernisasi dan globalisasi, sesuatu yang instan dan praktis,  sudah jamak menjadi kebutuhan sehari-hari,  dan tak terkecuali dalam cara kita berbusana,  yang lambat laun telah meninggalkan hal-hal yang berbau tradisional.  Seperti halnya stagen dan bengkung, yakni lembaran kain panjang, mirip ikat pinggang, lazim digunakan para perempuan jaman dulu sebagai pelengkap berbusana kebayak ,  maupun di pakai seusai melahirkan.

Meski stagen dan bengkuk , telah ditinggalkan oleh para perempuan modern,  namun tidak demikian dengan kamidi , seorang perajin tenun stagen dan bengkung tradisional, di dusun talapan , desa boyolangu,  kecamatan boyolangu , tulungagung, bersama keluarganya  ,  masih setia dan bertahan menenun stagen dan bengkung , dari benang kapas.

Benang putih polos,  yang di beli di toko tesktil, seharga 120 ribu rupiah per pak,  di jemur di bawah terik matahari,  dan sebelum di jemur ,  benang di rendam dalam larutan kanji,  atau tapioka.  Untuk mengawali pekerjaan menenun stagen dan bengkung ini,  karmidi,  yang di bantu istri dan anaknya,  menggulung benang-benang yang telah kering.

Menggunakan alat tenun tradisional inilah,  gulungan benang,  di tenun menjadi lembaran stagen dan bengkung. Untuk stagen dan bengkung,  yang dikerjakan karmidi dengan istrinya,  dalam satu bulan rata-rata dapat menenun sebanyak 60 lembar. Sedangkan harga stagen yang di jual ke tengkulak di pasar wage tulungagung,  yakni 15 ribu rupiah per lembar, dan bengkung,  di jual seharga 20 ribu per lembar.

Meski harga stagen dan bengkung, sangat murah,  namun permintaan setiap tahun terus turun,  di banding sebelum tahun 90-an , yang membuat karmidi , menghadapi kesulitan untuk memasarkan hasil produknya, yang masih tradisional .  Saat ini,  karmidi , hanya membuat stagen dan bengkung , berwarna putih polos,  tanpa warna motif , jika di beri warna,  biaya produksi akan lebih mahal,  untuk membeli pewarna tekstil, seharga 70 ribu rupiah per kilogram.

Sementara itu, menurut karmidi , yang menekuni usaha tenun stagen dan bengkuk , sekitar 30 tahun lalu , meski dari hari ke hari , permintaan produknya terus menurun,  yang biasanya di pakai para ibu-ibu , seusai melahirkan , akan terus ia jalani , kendati harus bertahan dari gempuran produk sejenis stagen dan bengkung, yang lebih praktis .

Di dusun talapan,  desa boyolangu ini , di masa keemasannya,  sebelum tahun 90-an,  hampir setiap rumah memiliki usaha tenun stagen dan bengkuk,  namun di era modern ini ,  hanya menyisakan 5 perajin tenun,  yang ada disekitar rumah karmidi,  dengan kendala sama,  yakni pemasaran.  Karena saat ini,  stagen dan bengkung, panjangnya lebih dari 6 meter,  nyaris sepi peminat, pasalnya untuk memakai dan melepas,  butuh waktu yang lama,  dan di anggap tidak praktis. Dari Tulungagung Nada Wianto.