DhohoTV - Sosial

Di Terjang Angin Kencang , Petani Bunga Potong Dalam Green House Merugi Hingga 70 Persen Tulungagung

Oleh : redaksi Jumat, 23 Desember 2016

Keterangan : Yang terjadi sejak lima hari terakhir , menyebabkan sejumlah petani bunga potong yang di tanam di dalam green house , merugi hingga 70 persen , karena tanaman bunga yang patah , dan mati . Selain itu

Bagikan

Sejak lima hari terakhir , wilayah lereng gunung wilis di desa geger , kecamatan sendang , kabupaten tulungagung , di landa angin kencang , yang menyebabkan sejumlah petani bunga potong , merugi hingga 70 persen , karena green house , tempat menanam bunga , porak poranda di terjang angin kencang , terutama pada bagian atap yang terbuat dari plastik tembus pandang .

Rusaknya green bagin atap ini , menyebabkan tanaman bunga potong , jenis bunga krisan dan aster , batangnya banyak yang patah hingga tanam roboh , dan mati , meski setiap batang bunga telah di pasang penyangga tanaman , yang terbuat tali plastik , karena batang tidak kuat menahan terpaan angin , yang masuk dari bagian atas green house .

Menurut ketua kelompok tani bunga sekar wilis , ratijo , kerugian yang di derita para petani bunga potong , akibat angin kencang , saat bunga potong jelang panen , karena akibat rusaknya atap green house , selain batang tanaman patah , juga tanaman mati di guyur hujan , hingga 70 persen . Jika cuaca normal , para petani bunga dapat memanen bunga tidak kurang dari 20 juta rupiah , setiap kali musim panen bunga , dengan ukuran green house 12 meter kali 24 meter .

Selain itu , akibat green house yang porak poranda , dapat mengakibatkan penundaan waktu tanam bunga , sehingga seharusnya dalam satu tahun dapat menanam 3 kali , kini hanya 2 kali . Untuk memperbaiki green house tersebut , perlu waktu lama , dan biaya yang tinggi , di mana untuk mengganti atap plastik dan rangka atap , setiap green house , memerlukan biaya 7 juta hingga 9 juta rupiah .


Diperkirakan angin kencang ini , akan terjadi hingga 1 bulan kedepan , sehingga belum dapat dipastikan untuk memperbaiki green house yang porak poranda . Dari Tulungagung , Nada Wianto .