DhohoTV - Sosial

Festival Walikukun , Kreativitas Warga Pinggiran Untuk Perkenalkan Seni Budaya Tulungagung

Oleh : Redaksi Senin, 31 Oktober 2016

Keterangan : Gelaran festival walikukun , upaya mengenalkan desanya yang berada di pinggir hutan tulungagung , jawa timur , sekaligus sebagai bentuk apresiasi berkesenian , dan budaya yang di gelar di tengah huta

Bagikan

Kemeriahan yang dirasakan warga desa winong , dan warga sekitar desa tersebut , untuk menyemarakkan festival seni budaya yang dinamakan festival walikukun , dan baru di gelar untuk pertama kalinya . Gelaran yang tanpa menggunakan panggung , dan hanya berlatar belakang , daun kelapa , dan gubug , melibatkan sejumlah seniman dari bergai daerah , serta warga , dan pelajar setempat . 

Berbagai pertunjukan kreasi seni budaya ditampilkan dalam festival ini , seperti reog gendang khas tulungagung , yang dimainkan oleh anak-anak sekolah dasar dan warga setempat , dan pertunjukan seni budaya tradisional  , yang keberadaannya hampir punah , yakni  pertunjukan unen-unen rengel dari tuban .
Unen-unen rengel ini , menampilkan kreasi ongkek , yang dijadikan alat musik , dan diklaim menjadi alat musik harpa pertamanya indonesia . Ongkek sendiri sebenarnya bukan merupakan alat musik , melainkan pikulan yang digunakan pedagang legen khas tuban , untuk membawa dagangannya .

Di tangan kreatif agus iwodh , ongkek kemudian dikreasi menjadi sebuah alat musik petik , maupun gesek seperti biola . Selain ongkek , dimainkan juga sebuah alat musik tradisional rinding , yang biasa dimainkan petani jaman dulu , saat beristirahat di sawah . Frekuensi suara yang dihasilkan alat musik tiup dari bambu ini , juga diyakini mampu untuk mengusir hama wereng .

Untuk festival walikukun sendiri , di ambil dari nama pohon walikukun yang dulu banyak tumbuh di kawasan hutan desa winong . Pohon walikukun , di percaya berasal dari tongkat yang di tancapkan sunan kalijaga , salah seorang walisongo , yang mensyiarkan agama islam di tanah jawa . Pohon walikukun , juga sebagai simbol benteng syiar agama islam oleh para wali , kala itu .

Usai berbagai pertunjukan kesenian di gelar , festival ini , di tutup dengan acara nonton bareng layar tancap , yang memutar  film karya anak jalanan sanggar siwi surabaya , bertema penolakan eksploitasi pekerja anak . Dari Tulungagung Nada Wianto .