DhohoTV - Sosial

Rampak Lesung , Bangkitkan Budaya Tradisional Tulungagung

Oleh : Redaksi Rabu, 14 September 2016

Keterangan : Untuk menumbuhkembangkan kembali , budaya tradisional yang lama menghilang , puluhan perempuan di tulungagung , jawa timur , beramai ramai memukul lesung , yakni alat penumbuk padi terbuat dari kayu .

Bagikan

Menggunakan sembilan buah lesung , dan 30 penabuh perempuan , mempertontonkan sebuah musikal tradisional , yakni pagelaran rampak lesung yang di gelar di desa picisan , kecamatan sendang , tulungagung , jawa timur . Di bawah arahan seniman lokal , bunyi-bunyian pukulan alu , atau antan , pada lesung , maka tercipta sebuah simponi khas pedesaan masa lampau .

Dikolaborasikan dengan musik kontemporer serta tarian dolanan , pagelaran rampak lesung di tulungagung ini , di klaim menjadi yang pertama di indonesia .

Sedangkan lesung sendiri , merupakan alat penumbuk gabah , atau padi , tradisional , untuk dijadikan beras , yang terbuat dari batangan kayu besar , dan di bentuk menyerupai sebuah sampan . Untuk menumbuk padi pada lesung , digunakanlah antan , sehingga dengan sendirinya menimbulkan bunyi .

Pada jaman dulu , pekerjaan menumbuk padi ini , dilakukan secara beramai-ramai oleh kaum perempuan desa , sambil mendendangkan lagu-lagu dolanan , dan sesekali diselingi canda tawa , sehingga tercipta harmonisasi antara musik dan lagu , yang kala itu , nyaring terdengar hingga di sudut-sudut desa .

Karena dilakukan secara beramai-ramai , dengan pukulan antan yang konstan , lesung ini , menghasilkan irama yang khas . Kekhasan irama dari lesung ini , pada mana dulu , dimanfaatkan anak-anak pada untuk bermain , dan menari , yang biasanya dilakukan pada saat bulan purnama , seusai masa panen padi . Kearifan lokal inilah , yang coba dibangkitkan kembali dengan digelarnya rampak lesung .

Pada jamannya , bunyi-bunyian dari lesung ini , juga dapat menjadi tanda seruan , atau panggilan , saat salah satu warga desa hendak menggelar hajatan . Saat mendengar suara pukulan lesung , maka para tetangga akan bergopoh-gopoh menuju rumah warga tersebut , untuk membantu .

Selain itu , memukul lesung juga menjadi tradisi , saat terjadi gerhana bulan , atau gerhana matahari , masyarakat desa akan beramai-ramai memukul lesung , dengan maksud , agar raksasa yang digambarkan menelan bulan , atau matahari akan memuntahkan kembali , dan gerhana segera berlalu . Dari Tulungagung Nada Wianto .